Menjadi Umi Tangguh Versi Ridha Allah
_Pemerhati Masalah Anak & Keluarga
Umi, satu kata dengan 3 huruf yang muncul. Sederhana dan mudah dilafalkan, namun begitu luar biasa pekerjaannya. Dua puluh empat jam manusia diberikan jatah waktu dalam satu hari semalam oleh Allah Swt. terasa kurang bagi sosok yang begitu mulia, umi. Bangun tidur sebelum anggota keluarganya bangun dan tidur ketika semua pekerjaan sudah beres. Itulah gambaran pekerjaan bagi seorang umi.
Di balik seluruh pekerjaan yang lakukan, ada satu amanah luar biasa tersemat padanya. Ialah sang pencetak generasi tangguh nan kuat. Tolok ukur generasi berada pada seorang umi, karena beliau sebagai madrasah pertama sekaligus awal mula anak-anak kenal berbagai hal.
Banyak cerita umi-umi hebat di luaran sana, termasuk para penghulu surga dari kalangan wanita yaitu Ibunda Siti Fatimah (anak dari Rasulullah saw.) termasuk pula bunda Khadijah (istri Rasulullah). Dari kedua tokoh tersebut kita belajar banyak hal. Termasuk salah satunya ketika membersamaai pasangan untuk melahirkan generasi tangguh. Tangguh dalam hal keimanan dan cerdas dari sisi keilmuan. Termasuk pula kita harus belajar keteguhan dari umi-umi di Gaza Palestina. Mereka menghadapi masa-masa sulit di luar jangkauan akal manusia, namun tetap bertahan dan berdiri tegar di atas rel keimanan.
Umi dan Rasa Sayang Serta Tantangan
Berbicara soal umi, maka kita tentunya akan merasakan kehangatan serta kelembutan yang terlihat dari setiap belaian dan sentuhannya. Karena sejatinya Allah memberikan amanah khusus hanya kepada manusia pilihan berjenis wanita. Ya, Allah memberikan rahim kepadanya. Tempat menempelnya dan tumbuh janin. Dengan rahim pula wanita menjadi penuh rasa dan sayang terhadap segala sesuatu termasuk kepada anaknya.
Begitu luar biasanya sosok wanita hingga Allah amanahkan khusus padanya. Dia harus mengandung selama sembilan bulan sepuluh hari, melahirkan, menyusui hingga umur ananda dua tahun, mendidik mulai dari kandungan sampai kapan pun. Termasuk akan selalu menjaga buah hatinya dengan segenap tenaga.
Ketika sakit melanda, dapat dipastikan umi menjadi orang pertama yang selalu khawatir akan kondisi ananda. Siap sedia untuk merawat hingga sembuh seperti sedia kala. Ialah umi, yang selalu berbuat dengan segenap tenaga mempersembahkan terbaik bagi anggota keluarganya.
Di sisi lain, kini tantangan dan hambatan yang luar biasa menghadang para umi. Kemajuan teknologi, desakan ekonomi membuat akhirnya para umi untuk berjibaku melawan gelombang dahsyat yang bisa jadi suatu saat menghantam bangunan keluarganya. Pemutusan hubungan kerja yang menimpa pada para tulang punggung akhirnya membuat umi memutar otak untuk dapat menyelesaikan persoalan ini demi keutuhan keluarga.
Tak lama, akhirnya ia pun keluar dari ranah terbaiknya menuju dunia luar nan penuh misteri dan gelombang. Akankah ia mampu bertahan dalam pergolakan dan hantaman ide-ide di luar Islam? Mampukah sematan pencetak generasi tangguh tetap berada pada diri umi?
Kuatkan Akidah dan Belajarlah
Gelombang ide-ide di luar Islam pasti senantiasa akan terus mengintai bangunan rumah tangga keluarga muslim. Mau tidak mau kita harus mampu bertahan demi keutuhan keluarga. Artinya umi harus mempunyai keimanan kokoh agar mampu melihat segala bentuk masalah dengan kacamata islam.
Akidah yang kokoh tentu akan membuatnya menjadi tahu dan menelaah segala persoalan kehidupan menuju akar masalahnya. Jika sudah ketemu, maka akan dengan mudah untuk mencari solusi yang harus diambil.
Tak lupa bahwa kemuliaan manusia itu dapat dilihat ketakwaannya.
Sebagaimana firman Allah dalam Al Qur'an :
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (TQS. Al Hujurat: 13)
Dalil di atas menjadi penguat bagi seorang umi untuk senantiasa mengajarkan hal keimanan yang utama kepada anandanya. Ibarat mendirikan sebuah rumah, maka fondasi harus kokoh serta kuat. Nah, fondasi yang dimaksud adalah keimanan tadi. Dengan keimanan yang kuat maka ananda tentu akan menjadi pribadi yang selalu pada jalur Islam. Dengan begitu, maka ia akan dengan mudah menangkap setapak demi setapak untuk menjalani kehidupan dunia ini.
Termasuk pula bagaimana umi sendiri harus mempersiapkan diri dengan berbagai keilmuan untuk menghadapi gelombang atau hantaman yang akan melanda biduk keluarganya. Apalagi belajar Islam sangat penting dilakukan bahkan menjadi kewajiban. Tak hanya bagi seorang umi namun setiap muslim wajib untuk menuntut ilmu. Sebagaimana sabda Rasulullah saw.
"Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah)
Dari hadis di atas kita dapati bahwa setiap muslim wajib hukumnya untuk terus belajar, termasuk bagi seorang umi. Semua ilmu jika bisa harus dilahap semua, termasuk ilmu-ilmu yang berkaitan dengan mendidik anak untuk menjadi hamba yang diinginkan Allah. Perlu modal yang istimewa dikala persaingan ide Barat yang kini menjadi musuh terbesar kita. Jika tidak ada persenjataan yang lengkap maka sudah dipastikan bahaya akan muncul di depan mata kita.
Jadi sangat penting bagi umi untuk menyiapkan dirinya dengan bekal berbagai keilmuan untuk mendidik sang buah hati. Mengerti akan Skala Prioritas dalam Menjalankan Aktivitas
Dalam menjalani kehidupan ini tentunya kita sebagai manusia apalagi seorang umi akan mempunyai segudang aktivitas yang akan dijalankan. Baik aktivitas tersebut berkaitan dengan posisinya sebagai seorang umi, adik, anak, atau anggota masyarakat. Terkadang banyak aktivitas yang akhirnya berbenturan antara satu dengan lainnya, maka kita harus bisa memilah aktivitas mana yang harus segera dilakukan dan bisa ditunda untuk dilakukan kemudian. Hal ini sangat penting kita pahami agar semua bisa dijalankan.
Kita bisa mendata aktivitas apa saja yang akan dilakukan kemudian memberikan keterangan apakah termasuk pada sisi penting dan genting atau sebaliknya. Dengan memberikan keterangan seperti ini maka insyaAllah akan memudahkan kita untuk mengukur urgensi dari setiap aktivitas. Tentunya kita harus mengetahui jenisnya apakah termasuk sesuatu yang harus kita kerjakan atau wajib atau sunnah saja dari sisi hukum Islamnya.
Sebagai contoh ketika berbenturan antara aktivitas kajian kita dengan refreshing dengan keluarga besar. Maka kita harus bisa mengambil kebijakan untuk mengikuti kedua agenda tersebut. Tentunya semua harus dikomunikasikan dengan baik. Bisa kita sampaikan kalau kita agak terlambat untuk mengikuti kegiatan keluarga karena ada aktivitas wajib sebagai bekal kita. Dengan seperti itu maka insyaAllah semua bisa berjalan dengan baik dan terlaksana. Ini menjadi salah satu contoh baik kepada ananda juga. Bahwa uminya mampu memberikan teladan baik dalam hal pengaturan aktivitas. Karena waktu bagi seorang muslim amat berharga.
Jika tidak bisa menggunakannya alias memanajemen dengan baik maka kita akan tergilas olehnya.
Nabi saw.bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amalnya dan seburuk manusia adalah yang panjang umurnya dan buruk amalnya.” (HR. Tirmidzi)
Sabda dari Rasulullah menjadi cambukan bagi kita sebagai umatnya. Begitu dalam makna hadis di atas dan itu seharusnya menjadi motivasi bagi kita untuk selalu menambah aktivitas yang sesuai dengan rel yang beliau sampaikan. Ananda adalah Amanah serta Aset Berharga Sebagai umi, dambaan mempunyai penerus menjadi sesuatu yang diimpikan. Anak adalah hadiah terindah yang Allah berikan serta titipkan ke rahim seorang umi untuk dididik dengan aturanNya. Artinya anak merupakan amanah dari Allah dan kewajiban kita untuk menjaganya dengan sepenuh hati. Karena nanti akan dimintai pertanggungjawaban di Yaumil Akhir.
Orang tua, terlebih umi harus mampu menjadikan anak-anak menjadi salih dan salihah sesuai dengan ketentuan Islam. Targetnya juga menjadi penerus untuk memperjuangkan tegaknya Islam di muka bumi ini. Sekaligus menjadi penerus estafet roda pemerintahan yang semoga di tangan mereka Islam sudah mampu ditegakkan dengan sempurna serta menyeluruh.
Artinya anak juga termasuk aset berharga bagi keluarga apalagi bagi Islam. Ia nantinya akan menjadi para pejuang nan tangguh. Mereka membela Allah, Rasul, Islam, dan kaum muslim dengan segenap hati mereka. Bersyukurlah dengan cara menyayangi anak-anak dan memberikan pendidikan keimanan yang kokoh karena banyak di luaran sana para pejuang garis dua.
Ketika kita diberikan anak maka artinya Allah tentu akan mampukan kita untuk menjalani sebagai orang tua. Tinggal persiapkan diri sebaik mungkin untuk mencetak generasi emas nan tangguh.
Penutup Persiapan dengan sungguh-sungguh tentunya akan dilakukan manakala seorang umi menyadari bahwa tanggung jawab besar ada di pundaknya. Masa depan Islam dan kaum muslim ada di tangan para umi di seluruh dunia. Maka dari itulah persiapkan semuanya untuk bekal kita mendidik ananda agar menjadi sosok penerus yang berjuang demi Islam dan kaum muslim.
Tidak mencukupkan dengan sedikit ilmu yang didapat, belajarnya tentang semuanya karena pasti itu akan bermanfaat bagi kehidupan kita. Asalkan masih dalam koridor hukum syarak. Berbuatlah maksimal dengan segenap tenaga kita agar tujuan itu bisa kita rengkuh bersama.
Editor :Esti Maulenni