Menaklukkan Hambatan Serta Tantangan
Manusia, tentu akan menemui berbagai kejadian di dalam hidupnya. Kadang gembira menyapa, namun terkadang sedih membersamai perjalanannya. Itulah dinamika kehidupan selama di dunia ini. Penuh lika liku dan beragam kejadian yang menimpa kita.
Ketika menjalani kehidupan ini, tentu saja berbagai ujian akan menunggu kita di depan. Termasuk pula dengan hambatan serta tantangan senantiasa berjalan bersama dengan perjalanan hidup. Layaknya sebagai manusia, maka kita menginginkan tujuan akhir yang sama. Yaitu mampu melewati semua itu dengan nilai baik dan sempurna, sehingga perasaan terus membara, bersemangat, serta gembira akan terpancar dari wajah kita. Namun, tak sedikit yang mampu melewatinya dengan baik, bahkan tak sedikit yang akhirnya tenggelam dalam jurang kegelapan.
Sangat disayangkan memang, jika manusia belum bisa menaklukkan berbagai ujian yang terbalut dalam tantangan serta hambatan. Artinya, ia harus mempunyai bekal yang cukup agar mampu melewatinya dengan baik serta hasil memuaskan. Ada beberapa langkah yang mungkin bisa membawa kita agar melewati berbagai hambatan serta tantangan dengan baik.
Menetapkan harapan dan tujuan
Dalam kehidupan, kita pasti mempunyai banyak harapan. Mulai dari anak-anak sampai dewasa harapan pasti ada dan selalu berubah alias berbeda. Nah, agar serius dan mampu mencapai setiap harapan tadi, maka menetapkannya dengan baik menjadi suatu keharusan. Menuliskannya menjadi awal mula untuk meraih harapan kita. Setelah seluruh harapan ditulis, maka dengan mudah kita merencanakan segala sesuatunya. Termasuk pula step alias langkah yang harus dilakukan menjadi semakin tergambar. Perlu dingat bahwa seluruh harapan yang kita tulis harus sejalan dengan tujuan hidup kita. Mengapa demikian? Jawabannya adalah karena tujuan hidup penting kita ketahui dan sesuai dengan jalur yang benar. Harapan dan tujuan ini merupakan satu kesatuan dan saling bersinergi. Sehingga wajiblah bagi keduanya terikat dan sesuai dengan apa yang mesti kita lakukan di dunia.
Ketaatan kepada Allah
Berbicara terkait dengan tujuan hidup, maka selayaknya sebagai seorang hamba yang diciptakan Allah Swt. Sudah sewajarnya untuk melaksanakan seluruh perintahNya sebagai wujud ketaatan. Dari titik ketakwaan yang terbongkar dalam keimanan akan menggiring kita pada sebuah tujuan hidup yang sesuai. Apakah itu? Di dunia tentunya manusia akan senantiasa menjalankan seluruh aktivitas kehidupannya hanya untuk beribadah kepada Allah Swt. Artinya aktivitas kita senantiasa mengacu pada sesuatu yang bernilai pahala. Itulah tujuan yang seharusnya dimiliki oleh setiap muslim. Dengan begitu, maka langkah demi langkah untuk meniti kehidupan akan mudah dilakukan. Termasuk dalam meraih berbagai harapan kita selama di dunia ini.
Contoh Nyata
Berkaca pada kehidupan para sahabat, maka gambaran itulah yang seharusnya kita tiru dan laksanakan sekarang. Mereka telah mempunyai keimanan kokoh dan mau berkorban apa saja demi tercapainya tujuan hidup sejati. Termasuk berbagai harapan yang ada senantiasa sejalan dengan tujuan hidup yang telah ditetapkan. Hidup mulia, mati syahid menjadi sebuah kunci yang senantiasa mereka pegang dalam mengarungi kehidupan di dunia ini. Artinya, dalam menjalankan aktivitas kehidupan ini haruslah berkaca hanya pada hukum syarak saja, tidak melirik pada hal lainnya. Mau berkorban apa saja asal tujuan bisa tercapai, walaupun sampai merelakan nyawa (jiwa) untuk mencapai tujuan hakiki manusia. Kematian bagi mereka hanya sebagai titik awal untuk bertemu dengan Allah Swt. Mereka mempunyai pemikiran sempurna bahwa kehidupan ini hanya satu titik dari garis panjang kehidupan manusia. Mengetahui secara pasti bahwa kehidupan kekal hanya di akhirat kelak serta surga menjadi tujuan akhir. Maka tercermin dari segala tingkah laku serta tutur kata hanya berkaca pada Islam. Pola pikir dan sikap yang mengacu pada hukum syarak semata.
"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (TQS Al-Ankabut: 2)
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar.” (TQS Ali Imran: 142)
Dari dalil di atas, menjelaskan kepada kita bahwa manusia hidup di dunia ini tentunya akan diuji oleh Allah Swt. Akan dikatakan lulus jika ia mampu melewati berbagai ujian hidup yang ada di hadapannya. Allah tentu akan menaikkan derajat hambanya yang mampu bertahan sampai garis akhir serta memberikan predikat baik bagi mereka.
Sebagaimana salah satu sahabiyah bernama Sumayyah binti Khayyat. Ia adalah seorang hamba sahaya dari Abu Hudzaifah bin Mughirah. Tidak ada kabilah yang dapat menolongnya serta mencegah kezaliman atas dirinya. Sumayyah hidup sebatang kara sehingga perlindungan ada pada Bani Makhzum. Ia dinikahi oleh Yasir dan mempunyai dua keturunan bernama Ammar dan Ubaidullah.
Ketika Ammar menjelang dewasa, ia mendengar agama baru yang dibawa oleh Muhammad bin Abdullah. Setelah bertemu dengan Nabi saw., Ammar terus memikirkan agama tersebut dan kembali ke rumah menemui kedu sorang tuanya. Ketika sampai di rumah ia menjelaskan pertemuan dengan Nabi saw. dan agama baru yang dibawa beliau. Kedua orang tua Ammar lantas mendengarkan apa yang disampaikan oleh anaknya dan kemudian menyambut agama baru itu dengan berislam. Sumayyah dan Yasir kemudian mengumumkan terkait dengan keislamannya itu kepada seluruh penduduk.
Berita keislaman Sumayyah serta Yasir telah didengar oleh Bani Makhzum. Sesaat kemudian, keluarga Yasir ditangkap dan disiksa. Tanpa rasa kemanusiaan, Bani Makhzum terus menyiksanya karena keislaman mereka. Seluruh keluarga Yasir diseret ke padang pasir saat panas matahari menyengat. Sumayyah kemudian ditaburi dengan pasir gurun yang begitu panas. Tak sampai disitu, penyiksaan berikutnya adalah baru besar kemudian diletakkan di atas dada Sumayyah. Bani Makhzum melakukannya agar keluarga Yasir kembali pada agama nenek moyang mereka (meninggalkan Islam). Namun yang terjadi, siksaan demi siksaan tidak membuat keluarga Yasir mundur dan melepaskan Islam. Justru dengan siksaan ini, mereka semakin tegar dan kuat demi mempertahankan agama Islam. Bahkan rintihan tak terdengar ketika mereka semua disiksa. Yang terdengar hanya kata "Ahad... Ahad...." yang keluar dari mulut Sumayyah. Saat itu Rasulullah saw. menyaksikan peristiwa kejam dan beliau berkata:
“Bersabarlah, wahai keluarga Yasir, karena sesungguhnya tempat kembali kalian adalah surga.”
Keluarga Yasir makin tegar dengan seruan yang diucapkan oleh Rasulullah saw. Dan Sumayyah dengan lantang terus mengucapkan kata Ahad berulang kali. Dan kalimat lain yang diucapkan adalah “Aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasulullah dan aku bersaksi bahwa janjimu adalah benar". Yasir pun melakukan hal yang sama, bahwa ia telah mematri dirinya untuk bersama istrinya menjadi pengikut Rasulullah dengan keislaman mereka. Ketika para tagut berputus asa atas segala siksa yang telak dilakukan kepada keluarga Yasir, maka musuh Allah Abu Jahal melampiaskan keberangannya kepada Sumayyah dengan menusukkan sangkur yang berada dalam genggamannya. Seketika itu Sumayyah menghembuskan nafas terakhir dan menjadi syahidah pertama. AllahuAkbar, MasyaAllah.
Begitu heroiknya kisah keluarga Yasir, terutama Sumayyah. Mereka dengan yakin bahwa Allah akan senantiasa menolong dan memberikan balasan setimpal atas segala pengorbanan selama di dunia. Dan kematian hanya sebagai baru loncatan yang akan menggiring manusia menuju tempat sejati, surga Allah. Semoga kita bisa selayaknya yang telah dilakukan oleh keluarga Yasir (Sumayyah). Mampu menjadikan Allah dan Rasul sebagai tempat sandaran sejati dan melakukan apa yang diperintahkanNya.
Yakinlah, bahwa Allah tidak akan memberikan ujian dan hambatan dalam kehidupan melampaui batas kemampuan dari makhlukNya. Semoga kita mampu menjadi hamba salih dan shalihah sebagaimana para pendahulu yang mampu mengorbankan segalanya, bahkan nyawa sekalipun.
Sebagaimana kisah heroik di atas, maka kita pun pasti bisa melakukan seperti beliau. Asalkan keimanan terus tertancap kuat dalam diri sebagai bekal atas seluruh aktivitas. Maka InsyaAllah menaklukkan hambatan serta tantangan akan dengan mudah kita lakukan. Tak lupa seraya berdoa kepada Allah Swt. untuk diberikan kekuataan dalam menghadapinya. Tetap semangat wahai saudariku, jadilah insan yang selalu membawa Islam dalam setiap perkara di kehidupan dunia. Wallahu'alam.
Editor :Esti Maulenni