Islam Melahirkan Generasi Tangguh Lagi Berbudi
_Pemerhati Anak & Keluarga
Dunia pendidikan lagi-lagi dihebohkan dengan ulah dari para siswanya. Padahal di bulan ini ada satu peringatan yang setiap tahun dirayakan. Ya, tepat di 2 Mei bangsa ini selalu memperingati Hari Pendidikan Nasional. Namun setiap kali ada peringatan tersebut tampaknya berbagai persoalan terus saja muncul dan bergejolak. Sebagaimana di kutip dari salah satu laman nasional bahwa beberapa siswa telah melakukan aktivitas pelecehan terhadap guru mereka sendiri. Hal tersebut terjadi di SMAN 1 Purwakarta.
Peristiwa tersebut dibenarkan oleh Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat, Purwanto. Beliau mengungkapkan bahwa peristiwa tersebut terjadi pada 16 April 2026 dan videonya viral dua hari setelahnya. Pelaku berjumlah sembilan orang dan semuanya adalah kelas XI IPS. (tribunjabar.id, 18/04/2026)
Peristiwa di atas tampaknya bukan pertama kali terjadi di negeri ini. Berbagai kejadian serupa ada di wilayah lain dengan kemasan berbeda. Pada intinya tetap sama yaitu melakukan aktivitas atau tindakan tidak terpuji terhadap sang guru. Lebih lanjut kita bicarakan bahwa hal ini nyatanya tak sekadar perihal siswa yang tidak disiplin, melainkan fenomena kurangnya adab terhadap para pendidik.
Berbicara terkait dengan kurang adab atau lebih singkatnya krisis adab memang begitu tampak di hadapan kita. Entah itu kepada guru sebagaimana kasus yang telah dipaparkan atau ke orang tua sendiri (orang yang lebih tua). Tampak jelas bahwa remaja saat ini benar-benar sangat jauh dari kata sopan dan beradab. Hal tersebut tidak terlepas dari pemahaman yang didapatkan oleh remaja itu sendiri. Secara ringkasnya begini, saat ini mereka tumbuh dengan sisi kemajuan teknologi yang begitu luar biasa. Termasuk pula pada media massa yang sekarang berkembang sangat pesat, sudah menjadi rahasia umum pula jika konten-konten yang ada di sana sangat banyak serta bervariasi. Ya, di satu sisi konten yang ada akan membawa mereka pada jalan kebaikan, namun di sisi lainnya (ini jumlahnya banyak) konten yang ada justru unfaedah kalau orang bilang. Apakah itu? Konten hanya berisi soal popularitas seseorang alias validasi diri. Pamer kekayaan dan pendapatan, fashion yang lagi hits, ataupun lainnya. Nah, berbagai konten tersebut hanya bermuara pada satu hal, yaitu menaikka popularitas individu disertai dengan kata terkenal. Nah, di sinilah bahaya baru akan muncul di permukaan. Bahwa mereka, demi mendongkrak popularitas dan follower yang dilakukan adalah mengerjakan aktivitas apapun itu yang penting bisa menaikkan angka-angka tadi. Alhasil, yang terjadi bisa kita lihat seperti sekarang ini. Adab menjadi satu komponen yang benar adanya mereka tinggalkan, sehingga wajar jika konten yang mereka buat seperti kasus di atas tadi.
Berbicara terkait dengan kasus di atas, maka pastinya kita akan mengetahui bahwa seluruh kejadian tersebut hanya tersebab oleh satu perkara. Perkara tersebut adalah adanya penerapan sistem kapitalis sekuler liberal yang ada di negeri ini. Dengan kapitalis diterapkan maka mereka akan selalu mengacu pada asas manfaat serta materi saja yang dikejar. Ditambah dengan adanya sekuler liberal membuat perbuatan atau aktivitas remaja menjadi tidak mempunyai batasan jelas (rem blong). Mereka tak lagi mau menggunakan agama sebagai baru bijak seluruh aktivitas. Karena bagi mereka agama adalah salah satu penghambat untuk menghasilkan karya. Ini menurut mereka (remaja) saat ini yang benar-benar jauh dari sisi agama. Nah, inilah poin krusial yang akhirnya menghasilkan perbuatan-perbuatan seperti di atas.
Kemudian pada sisi masyarakat termasuk teman, tak lagi saling peduli satu sama lainnya. Padahal sebagai sesama muslim maka kita wajib untuk melakukan amar makruf nahi mungkar sebagai tanda sayang dan cinta kita terhadap sesama. Tak ingin saudaranya masuk pada lembah atau jurang kemaksiatan makanya menasehati menjadi kunci atasnya. Ini yang kemudian juga tidak dilakukan atau intensitasnya menurun. Tak lain disebabkan oleh sistem yang ditetapkan juga, bahwa mereka hanya mengurusi urusan individu semata tanpa mau peduli dengan yang lain.
Di sisi lain, negara pun tak mampu andil besar dalam menyelesaikan masalah ini. Padahal negara punya kekuatan besar dan semestinya mampu memutus mata rantai perkara ini agar tak ada lagi kasus serupa. Caranya tak lain adalah dengan serius menjaga remaja dari konten-konten yang merusak. Negara mampu menutup akses dan menghapus website atau media massa yang tampak menayangkan konten yang tidak sesuai. Bahkan mampu juga untuk memberikan sanksi tegas kepada pemiliknya agar ada efek jera kepadanya dan yang lain tidak akan mengulangi perbuatannya. Nah, itulah yang seharusnya berjalan di negeri ini. Dengan adanya keterlibatan masyarakat serta negara diharapkan mampu memutus persolan tersebut. Dan tentunya negara harus membangun fondasi kokoh keimanan individu muslim. Dengan begitu maka insyaAllah mereka akan tahan terhadap terpaan dunia luar yang begitu merusak.
Itulah tiga pilar utama dalam sistem Islam yang mampu menjaga individu muslim dari berbagai persoalan kehidupan. Hal tersebut akan makin kuat ketika Islam diterapkan pada kehidupan manusia dalam sebuah sistem. Dan tentunya dilindungi dengan institusi yang mampu menerapkan hukum Islam secara sempurna menyeluruh. Dengan begitu, kemajuan teknologi akan membawa manusia pada kemajuan sesungguhnya dan membawa Islam sebagai dasar atas segala tindak tanduknya.
Terakhir, bahwa persoalan di atas adalah secuil dari problematika kehidupan yang ada. Dengan berpegang teguh pada Islam, maka yakinlah jalan yang ditempuh sesuai dengan kehendak Sang Pencipta, Allah Swt. Islam juga akan melahirkan generasi yang taat kepada Rabb dan menjungjung tinggi adab. Karena itu adalah ajaran yang ada do dalam Islam. Semoga masa ini akan segera terulang kembali, sebagaimana dahulu telah diterapkan 1300 tahun lamanya.
Wallahu a‘lam bish shawab.
Editor :Esti Maulenni