Angka Kematian Ibu Meningkat
Mulyaningsih_Pemerhati Maslah Anak & Keluarga
Publik kembali merasa sedih dengan kondisi yang emang menimpa negeri ini. Masalah demi masalah kian silih berganti tanpa henti. Mulai dari persoalan pendidikan serta MBG nya, masalah ekonomi terait dengan melemahnya rupiah, dan masih banyak lainnya. Termasuk pada angka kemiskinan yang terus saja belum bisa terpecahkan untuk menuju pada derajat penurunan jumlahnya. Kemudian ada pula fakta yang berkaitan dengan masalah ibu dan anak.
Sebagaimana dikutip dari salah satu laman nasional menyebutkan bahwa seorang ibu hamil di Jayapura Papua meninggal dalam perjalanan saat melahirkan. Sebelumnya, ibu tersebut ditolak pada beberapa rumah sakit di wilayahnya dengan alasan beragam. Salah satunya adalah karena tidak ada dokter spesialis kebidanan dan kandungan serta fasilitas tidak mendukung. (kompas.id, 04/06/2026)
Sedih memang jika melihat kondisi tersebut di atas. Masyarakat masih saja mempertaruhkan nyawa untuk mendapatkan akses fasilitas kesehatan yang memadai. Lebih sedihnya, ketika kita melihat data bahwa jumlah dokter spesialis kebidanan dan kandungan atau dokter obgyn dari sisi jumlahnya sudah melebihi standar nasional yang dibutuhkan. Namun, fakta membuktikan masih saja masyarakat susah untuk mengaksesnya. Masih harus bertaruh nyawa, demi mendapatkan fasilitas tersebut.
Dari data yang didapatkan bahwa kematian ibu pada 2020 mencapai 189 kasus per 100.000 kelahiran hidup. Hal ini masih di atas target tujuan pembangunan berkelanjutan yang menentukan maksimal kasus kematian ibu adalah 70 per 100.000 kelahiran hidup pada 2030. Ini bukti persoalan kesehatan ibu masih menjadi momok yang menakutkan di negeri ini. Ironisnya lagi, ini terjadi di saat jumlah dokter spesialis kebidanan dan kandungan sudah melebihi kebutuhan nasional.
Jika kita pikirkan secara mendalam, memang pemerataan akses kesehatan di negeri ini masih belum sempurna. Salah satu fakta yang terjadi di atas merupakan bukti bahwa masyarakat kembali harus bertaruh nyawa hanya demi mendapatkan fasilitas kesehatan yang mempuni. Mungkin saja pemerataan itu belum terjadi sampai pada wilayah timur Indonesia. Sehingga akses kesehatan masih sangat sulit didapatkan. Terkadang masyarakat timur lebih memilih pengobatan alternatif ketimbang dari sisi medis. Karena memang benar-benar sulit untuk ke dokter spesialis. Janganlah ke spesialis, terkadang ke Puskesmas saja mereka begitu sulit untuk menuju ke sana. Nah, itulah realitas yang memang terjadi pada masyarakat di negeri ini.
Artinya, bahwa kesehatan masih belum mampu merata sampai pada pelosok negeri ini. Kesehatan masih saja menumpuk di wilayah yang mudah di akses. Tentunya wilayah kota dengan segala macam fasilitas memadai yang dicari oleh semua orang. Padahal di wilayah desa, masih banyak masyarakat yang membutuhkan fasilitas kesehatan tersebut. Namun, sekali lagi bahwa mental serta kemudahan akses itu menjadi fokus utama bagi seluruh dokter yang ada. Mereka memikirkan dengan teliti, ketika ditugaskan ke wilayah pedesaan maka akan berpikir seribu kali untuk menerimanya dengan hari ikhlas. Terkadang mereka lebih memilih penempatan di wilayah kota walaupun dengan gaji yang tidak terlalu besar. Padahal kebutuhan dokter, apalagi spesialis begitu sangat diperlukan di wilayah desa. Artinya, perlu kebijakan yang benar-benar akan berpihak kepada masyarakat kecil (baca: jelata) agar kesehatan bukan merupakan sesuatu yang sulit untuk mereka jangkau.
Kita menyadari bahwa kapitalis sekuler telah mencetak manusia menjadi sosok individu yang selalu mengedepankan pada sisi materi serta keuntungan. Termasuk pula pada individualisme yang masih saja mengajar kuat dari diri setiap individu membuat akhirnya kepekaan terhadap sesama menjadi berkurang. Mereka lebih mementingkan pada dirinya sendiri, termasuk pula dengan pemenuhan segala kebutuhan hidupnya akan selalu ia pikirkan secara masak-masak.
Tentunya berbeda dengan cara pandang Islam. Bahwa Islam akan selalu berfokus pada sisi akidah sebagai dasar atas segala sesuatu. Termasuk untuk bertindak serta beraktivitas. Dengan segenap hati mereka menyadari bahwa manusia adalah makhluk yang allah ciptakan maka sudah seharusnya bersikap sesuai dengan perintahNya saja. Bagaimana pula ia akan senantiasa menjadi sosok yang berguna bagi sesama. Itulah yang akan selalu dicari dan digaungkan pada seluruh kaum muslim. Karena materi serta manfaat itu tidak menjadi fondasi atas segalanya. Yang mereka pikirkan adalah bagaimana keimanan yang kuat dalam diri ini akan menjadikannya makhluk bertakwa yang Allah inginkan. Nah, itulah yang selalu dipikirkan, sehingga aktivitas yang dilakukan tentunya akan selaras dengan pemikiran mereka.
Begitu pula mereka menyadari bahwa kehidupan ini hanya sementara dan akan dimintai pertanggungjawaban kelak di Yaumil akhir. Dengan begitu makin kuatlah motivasi mereka untuk menjadi manusia berguna demi seluruh makhluk. Sebagaimana pula sabda Nabi saw.
"Tidaklah seorang pemimpin mengurusi urusan kaum muslim, kemudian tidak bersungguh-sungguh untuk mengurusi mereka dan menasehati mereka, kecuali dia tidak akan masuk surga bersama mereka."(HR. Muslim)
"Imam (Kepala Negara) adalah pengurus rakyat, dia akan diminta pertanggungjawabannya tentang rakyatnya." (HR. Bukhari)
Dari dua gadis di atas juga menggambarkan bahwa sisi pemerintah akan bertanggung jawab penuh terhadap masyarakat yang dipimpinnya. Secara otomatis ia akan bersungguh-sungguh dalam meriayah mereka. Termasuk ketika berbicara soal dokter spesialis tadi, maka negara dalam hal ini pemerintah akan selalu berupaya serius dalam membuat kebijakan demi masyarakat. Bukan hanya demi segelintir orang tapi untuk seluruhnya. Dan pastinya akan mewujudka kemaslahatan umat secara pasti.
Termasuk negara akan menyediakan secara penuh fasilitas kesehatan bagi masyarakatnya. Karena kesehayan merupakan kebutuhan pokok yang wajib pemenuhannya dikontrol individu per individu. Maka negara akan meratakan jumlah dokter spesialis ke seluruh negeri dengan juga memberikan fasilitas yang lengkap lagi sempurna. Bahkan sampai pada pelosok negeri harus ada akses kesehatan untuk masyarakat. Sebagaimana keyika Islam diterapkan selama 1300 tahun lamanya. Saat itu di pelosok negeri atau desa disediakan Puskesmas keliling demi memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat. Hal ini dilakukan sebagai wujud riayah negara kepada umat.
Editor :Esti Maulenni