Mencintaimu Membuatku Ingin Kembali Terluka
Jika kemarin luka adalah perhiasan,
maka biarkan hari ini ia menjadi fondasi.
Aku telah berhenti menghitung berapa kali aku jatuh, karena di setiap dasar jurang itu, selalu kutemukan jejak kakimu yang menanti.
Kita bukan lagi dua orang yang takut akan pecah, kita adalah porselen yang direkatkan oleh emas perih; semakin retak, semakin tinggi nilai seninya. Sebab apa gunanya utuh jika hanya untuk menjadi pajangan dingin? Lebih baik hancur berkali-kali, lalu disusun ulang oleh jemarimu.
Jangan lagi bertanya tentang perih,
karena sarafku sudah khatam membaca bahasamu. Rindumu adalah sembilu yang paling kukenali, dan pelukmu adalah satu-satunya obat yang justru membuatku ingin kembali terluka.
Di tubuhmu, aku menemukan peta pulang. Di bekas lukamu, aku menemukan altar untuk bersyukur.
Bahwa mencintaimu bukanlah soal menghindari badai, tapi tentang bagaimana kita menari di bawah hujan hingga kulit kita basah oleh kenangan yang takkan luntur.
Aku tidak lagi mencari kesembuhan yang mutlak, karena bagiku, tetap bersamamu dalam keadaan cacat jauh lebih megah daripada berdiri tegak sendirian.
Kita adalah monumen yang berdenyut;
bukti hidup bahwa ada yang lebih abadi dari rasa sakit, yaitu cara kita menolak untuk saling melepaskan.
Mau Baca Lainnya, Ikuti Penulisnya:
https://www.facebook.com/share/18FgY2nZq8/ Atau https://www.facebook.com/share/p/18TcUCrVZ3/
Editor :Esti Maulenni