Jalan Pulang Menemukan Sekeping Hati Di Bandara
Apa yang membuat ku merasa nyaman dengan keadaan seperti ini. Setelah hujan menghapus segala kenangan pahit bersamanya, kenangan yang selama ini bersemayam dalam palung hati yang teramat dalam. Aku merasa semuanya yang terjadi itu baik-baik saja. Tetapi setelah kutilik kembali, ternyata tidak. Ia serupa bisa ular yang mematikan. Seperti gelombang yang dapat meluluh lantahkan dasar terdalam, yakni dalam jiwaku.
Kini aku mencoba untuk membiasakan diri dengan alam yang telah memisahkan rasa setiaku kepadanya. Tetapi semua hanya sia-sia. Mataku menjadi buta. Telingaku menjadi tuli. Mulutku tak dapat bicara. Lidahku kelu. Aku seperti sangat berharap; pasti nanti kebahagian itu bersambut kembali, namun kekecewaan seperti bara tentara yang siap menghabisiku.
Aku terjatuh dan bangkit berkali-kali. Wajahku sayu, bermalam-malam mata ini melihat jurang sehingga sulit untuk terpejam. Terpejam sejenak untuk dapat melihat kamu. Melihat kamu yang sedang mengerlingkan mata kepadaku di bandara yang lapang nan romantis. Tak kala aku sadar itu hanyalah mimpi, bandara itu menjadi sesak dan dadaku menjadi sakit Krena aku tak menemukan sekeping hati yang dapat menyatukan hati yang dulu pecah berderai dengan penuh kepiluan.
Ada saatnya di mana kita tak dapat lagi berpaling dengan keadaan yang mengharuskan hukuman itu terjadi pada diri kita. Ada saatnya di mana hujan tak dapat lagi menahan berat bebanya untuk jatuh ke bumi. Ada di mana saatnya aku menangis berharap pinta paling setia, berharap dapat menerjemahkan rindu dalam risalah kata-kata. Adakalanya itu terjadi, sehingga jalan pulang untuk menemukan sekeping hati benar-benar bisa utuh dalam percakapan gerimis yang di nanti-nanti.
Ternyata aku salah. Aku kira selama ini cintaku kepadanya akan disambut dengan muka yang manis dan dengan tangan yang halus. Ternyata bukan muka yang manis dan tangan yang halus menyambutku. Sekali lagi aku salah! Sekali lagi aku sadar! Ternyata yang menyambut cintaku adalah angin malam yang membuat seluruh badanku mengigil kedingian. Setelah itu aku jatuh sakit berhari-hari. Badanku kurus karena sakitku yag semakin hari tak menampakan gejala untuk sembuh.
Akankah semua sakitku ini dapat melangit untuk mengabarkan; bahwa didalam cintanya ada tangis yang memilukan. Bahwa didalam tangis itu terdapat perahu doa untuk mengobati segala luka.
Editor :Esti Maulenni