Luka Yang Tak Bertepi
Aku masih di sini, menjadi tawanan dalam labirin rasa yang kau bangun dengan janji, lalu kau tinggalkan tanpa kunci. "Aku ingin memelukmu," sebuah kalimat sederhana yang kini menjelma menjadi belati paling tajam, menghujam tepat di ulu hati setiap kali senja mulai menanggalkan warnanya. Aku meracau dalam diam, memanggil namamu hingga kerongkonganku kering oleh debu-debu pengabaian.
Kita adalah dua orang yang pernah berbagi satu detak, namun kini kau adalah asing yang paling mustahil kujangkau. Aku adalah lelaki yang mencoba menenun kembali benang-benang harapan yang telah kau bakar, berdiri tegak di atas puing-puing harga diri yang lumat oleh kecewa. Betapa ironisnya; aku adalah sang petualang yang tahu persis letak setiap bintang, namun aku selalu tersesat setiap kali mencoba mencari jalan keluar dari ingatan tentangmu.
Biarlah sajak-sajak ini menjadi saksi, bahwa ada seorang lelaki yang tetap mencintai meski hatinya telah menjadi abu. Aku menghargai setiap tetes air mata yang jatuh ke dasar jurang itu, karena bagiku, itulah satu-satunya cara untuk membuktikan bahwa aku masih memiliki jiwa. Aku tidak membenci rasa sakit ini; aku justru memeluknya erat, karena hanya rasa sakit inilah yang masih tersisa sebagai bukti bahwa kau pernah nyata, bahwa kita pernah ada.
Hukuman tahun-tahun yang lalu itu kini telah menjadi kulit keduaku. Aku hidup dalam senyap, bernapas dalam rima, dan mencintaimu dalam ketiadaan yang absolut. Sejauh mana pun kaki ini melangkah, bayangmu adalah jangkar yang menahanku di dasar samudera sepi. Aku adalah setabah-tabahnya pengelana, yang tetap berjalan menuju ufuk meskipun tahu matahari telah lama padam di matamu.
Dan jika memelukmu untuk terakhir kali adalah sebuah kemustahilan, maka biarlah aku memeluk bayangmu dalam setiap larik doa yang kupanjatkan di penghujung malam yang dingin. Agar rindu yang sempat kutenun tidak kembali terurai menjadi telaga sunyi.
Editor :Esti Maulenni