Mencintaimu Adalah Bunuh Diri Paling Lambat Yang Pernah Kurayakan
Kini, semesta seolah mendadak bisu.
Tangan yang dulu merajut robekan di jiwaku, kini telah lepas dan hilang di balik kabut waktu.
Aku tertinggal sebagai sisa-sisa doa yang tak sempat diaminkan, berdiri di sebuah jalan sepi, menanti kereta yang masinisnya telah lama melupakan jalan pulang.
Ternyata, hal yang lebih tajam dari sembilu bukanlah perih saat kita berseteru, melainkan sunyi yang merayap ketika namamu tak lagi punya rungu untuk hinggap.
Aku merindukan cara kita saling merajam dengan tatapan, karena di dalam amarah itu, setidaknya aku tahu aku masih kau anggap ada. Sekarang, aku hanyalah sebuah manuskrip usang yang tintanya luntur tersiram air mata sendiri.
Kenapa kau biarkan aku mencintai retakan ini, jika pada akhirnya kau biarkan aku membeku dalam keutuhan yang hampa? Aku membenci ketenangan ini. Aku membenci raga yang tak lagi berdarah, sebab tanpa bekas jemarimu, kulitku hanyalah kanvas kosong yang kehilangan maknanya.
Bagiku, sembuh adalah pengkhianatan paling telak terhadap kenangan kita. Aku kini adalah sebuah upacara yang kehilangan sesembahan. Menghirup udara yang terasa seperti pecahan kaca, menelan waktu yang hanya menyisakan amis kehilangan di pangkal lidah.
Mencintaimu adalah bunuh diri paling lambat yang pernah kurayakan, di mana aku mati berkali-kali, namun tak pernah diizinkan untuk benar-benar dikuburkan.
Di akhir perjalanan ini, aku menyadari satu hal yang paling menyayat: Bahwa puncak dari segala duka bukanlah saat kita saling menyakiti, tapi saat aku harus tetap mencintaimu di dalam dunia yang tak lagi memiliki aroma tubuhmu.
Editor :Esti Maulenni