Selamat Tinggal Pada Kita Yang Tak Pernah Usai
Maka Biarlah sisa usiaku menjadi sebuah ziarah panjang tanpa nisan.
Aku tidak lagi mencari arah, karena bagiku, menyesatkan diri di dalam kenanganmu adalah satu-satunya cara untuk tetap merasa hidup.
Aku adalah sebuah pelita yang dipaksa tetap menyala di tengah badai, bukan untuk menerangi jalan, melainkan untuk menyaksikan betapa luasnya kehampaan yang kau tinggalkan.
Ternyata, mencintaimu dalam ketiadaan adalah pekerjaan yang paling melelahkan. Aku harus terus menyusun wajahmu dari debu-debu udara, mengais suaramu dari desau angin yang lewat di telinga, dan memeluk bayang-bayang yang selalu luput dari jemala.
Aku lelah menjadi satu-satunya saksi atas apa yang dulu kita sebut "selamanya", sementara kau kini telah menjadi asing yang tak lagi bisa kusapa.
Kini, aku adalah bait yang kehilangan rima, sebuah buku yang halaman akhirnya disobek paksa oleh semesta.
Tak ada lagi kemegahan dalam duka ini, yang ada hanyalah amis sepi yang kian merajam dada.
Setiap kali fajar menyapa, aku merasa seperti narapidana yang diberi waktu tambahan, hanya untuk merasakan kembali betapa menyesakkannya bernapas tanpa detak jantungmu yang mendampingi.
Jika mencintaimu adalah bunuh diri paling lambat,maka biarlah aku menjadi mayat yang menolak untuk membusuk.
Aku akan tetap di sini, di titik di mana kau terakhir kali melepaskan genggaman,menjadi monolog panjang yang tak akan pernah menemukan penutupnya.
Sebab bagiku, lebih baik hancur dalam ingatan tentangmu, daripada menjadi utuh namun tak lagi mengenali siapa diriku tanpa luka yang kau beri.
Selamat tinggal pada kita yang tak pernah usai,namun dipaksa selesai oleh waktu yang tak punya hati.
Editor :Esti Maulenni