Aku Memilih Tetap Mencintaimu, Meskipun Namaku Telah Hilang Dalam Ingatanmu
Di penghujung narasi yang koyak ini, aku belajar tentang cara paling sunyi untuk hancur. Bukan dengan ledakan yang mengguncang langit, melainkan dengan rintik kehilangan yang perlahan-lahan menenggelamkan seluruh waras.
Aku adalah perahu yang kehilangan nakhoda di tengah samudera air mata, mengapung tanpa tujuan, hanya untuk menunggu waktu mengikis kayu-kayu harapanku hingga karam.
Kini, setiap sudut kota terasa seperti museum kenangan yang terkunci. Aku melihat bayangmu pada setiap pendar lampu jalan, mendengar bisikmu pada setiap deru hujan, namun ketika kutolehkan wajah, hanya kekosongan yang membalas tatapku dengan dingin.
Aku dipaksa menjadi kurator atas sisa-sisa rasa yang tak lagi kau butuhkan,
menjaga api yang hanya membakar kulitku sendiri hingga menjadi abu yang terserak.
Aku mulai membenci keheningan malam, karena di sanalah suara ketiadaanmu terdengar paling nyaring. Ia meneriakkan namamu di dalam rongga dadaku yang lowong, mengingatkan bahwa jantung ini hanyalah segumpal daging yang berdenyut tanpa alasan.
Aku adalah sebuah perjamuan yang tak kunjung dibersihkan; sisa-sisa tawa yang telah basi dan janji-janji yang kini berjamur di atas meja kesetiaan. Maka, biarlah aku menjadi satu-satunya yang tersisa dari keruntuhan ini.
Biarlah duka ini menjadi jubah yang kukenakan hingga liang lahat menjemput. Sebab jika aku berhenti bersedih, aku takut aku akan benar-benar kehilanganmu— bukan hanya raga, tapi juga bayang yang selama ini menjadi satu-satunya penghuni di kepalaku.
Pada akhirnya, mencintaimu adalah mengamini sebuah tragedi yang tak berkesudahan. Sebuah epilog yang ditulis dengan darah yang mulai mengering, di mana aku tetap memilih untuk mencintaimu, bahkan ketika namaku telah hilang dari ingatanmu,
dan kau telah menjadi bahagia di atas kepunahan duniaku.
Editor :Esti Maulenni