Sebuah Nama Yang Bergema Di Dalam Dadaku
Kini, aku berdiri di titik di mana waktu berhenti mengejarmu. Aku adalah sisa peradaban yang kau lupakan dalam sekali kedip, sebuah bab yang kau robek dari buku hidupmu agar narasinya kembali mulus tanpa cela.
Bagimu, aku mungkin hanyalah angin yang pernah lewat sekilas, namun bagiku, kau adalah udara yang kupaksa masuk ke dalam paru-paru yang sebenarnya sudah lama berhenti berfungsi
Aku melihatmu dari kejauhan, tersenyum pada dunia yang tak lagi menyertakan wajahku di dalamnya. Tatapanmu kini jernih, tak ada lagi beban rahasia atau sisa-sisa badai yang dulu sering kita redam bersama.
Betapa kejamnya takdir; saat aku masih memeluk erat setiap robekan di hatiku agar aromamu tak menguap, kau justru telah lahir kembali sebagai orang asing yang sama sekali tak mengenali bau hujanku.
Aku adalah sebuah naskah yang tak akan pernah dipentaskan lagi. Tersimpan di rak paling bawah, berdebu, dan perlahan dimakan rayap sunyi. Namun, jika melupakanmu adalah syarat untuk kesembuhanku, maka aku memilih untuk tetap sakit selamanya.
Biarlah aku menjadi hantu di dalam rumah yang dulu kita bangun, menyaksikanmu mencintai orang lain dengan cara yang dulu pernah kau gunakan untuk meluluhkanku. Tak perlu kau ingat lagi siapa yang dulu menjahit lukamu saat dunia mencacimu. Biarlah seluruh perih itu menjadi milikku sepenuhnya.
Sebab, melihatmu bahagia dalam amnesia tentang kita, adalah kado paling pahit yang kuterima dengan tangan gemetar.
Aku akan tetap di sini, menjadi penjaga setia bagi sebuah nama yang kini hanya bergema di dalam liang dadaku sendiri.
Pada akhirnya, kesetiaan bukanlah tentang berapa lama kita bersama, melainkan tentang seberapa sanggup aku tetap mencintaimu, saat aku tak lagi memiliki tempat bahkan di sudut terkecil ingatanmu.
Aku adalah doa yang tetap mengangkasa, meski Tuhan telah memberi jawaban "tidak" pada setiap amin yang kurapalkan.
Editor :Esti Maulenni