Sebab Mencintaimu Adalah Satu-Satunya Kesalahan Yang Ingin Ku Ulang
mencintaimu adalah keberanian untuk menyerahkan seluruh napas pada seseorang yang jemarinya belum tentu bersedia menggenggamku saat senja mulai memudar menjadi kelabu.
Aku pernah menjadi musim yang paling kau puja, tempat kau menitipkan benih-benih tawa sebelum badai benar-benar menghapusnya dari peta. Bagiku, mencintaimu adalah keberanian untuk menyerahkan seluruh napas pada seseorang yang jemarinya belum tentu bersedia menggenggamku saat senja mulai memudar menjadi kelabu.
Kita adalah dua baris kalimat dalam satu paragraf, yang dipisahkan oleh tanda titik yang diletakkan paksa oleh semesta. Aku masih menyimpan sisa hangat bicaramu di balik lipatan baju, seolah dengan begitu, aku bisa membohongi waktu bahwa kau belum benar-benar berlalu. Betapa romantisnya duka ini; ia membuatku tetap terjaga hanya untuk memastikan bahwa bayangmu masih punya tempat untuk bersandar di dinding kamarku yang sunyi.
Namun, mencintaimu kini terasa seperti membaca buku yang halaman akhirnya telah hilang. Aku tahu bagaimana kita bermula, tapi aku tak pernah siap melihat bagaimana kita ditiadakan. Kau adalah keindahan yang paling menyakitkan, sebuah melodi indah yang terhenti tepat di bagian yang paling ingin kunyanyikan selamanya. Aku merindukanmu seperti bumi merindukan hujan—setia menunggu, meski tahu bahwa setiap tetesnya hanya akan membuatku semakin tenggelam dalam lumpur kehilangan.
Pada akhirnya, aku belajar bahwa bentuk cinta yang paling puitis adalah merelakanmu menjadi bahagia, meskipun kebahagiaan itu tidak lagi memiliki aroma tubuhku. Aku akan tetap di sini, menjadi penjaga rahasia bagi semua janji yang pernah kita tukar, sembari perlahan menerima bahwa namaku kini hanyalah sebuah bisikan yang memudar di dalam riuh duniamu yang baru. Sebab mencintaimu adalah satu-satunya kesalahan yang ingin kuulang seumur hidupku.
Editor :Esti Maulenni