Mencintaimu Dalam Sunyi Adalah Ibadahku Paling Sunyi
Kini, aku adalah pengasingan yang kau ciptakan tanpa sengaja. Aku berjalan di atas tanah yang sama dengamu, menghirup sisa udara yang baru saja kau lepaskan, namun eksistensiku bagimu tak lebih dari sekadar debu yang tak sengaja menempel di ujung sepatumu. Kau melangkah dengan ringan, membawa senyum yang tak lagi berhutang pada dukaku, sementara aku masih tertatih memikul beban seluruh masa lalu yang kau jatuhkan begitu saja di pundakku.
Aku belajar bahwa bentuk pengabaian yang paling purba bukanlah kebencian, melainkan tatapan kosong yang tak lagi menyimpan riak pengenalan. Saat matamu menembus ragaku seolah aku hanyalah kaca transparan, di sanalah aku benar-benar mati. Aku adalah narasi yang kehilangan pembaca, sebuah melodi yang kehilangan rungu, dan sebuah rumah yang kuncinya telah kau buang ke dasar samudera paling dalam.
Terkadang, aku ingin berteriak di hadapanmu, merapal ulang semua janji yang pernah kau bisikkan di bawah langit yang sama. Namun aku urungkan, karena aku tak ingin merusak damai yang kini kau huni dengan susah payah. Biarlah aku yang menanggung seluruh bising kenangan ini, biarlah aku yang menjadi penjara bagi setiap tawa yang pernah kita bagi. Jika bahagiamu adalah dengan melupakan bahwa aku pernah menjadi bagian dari detak jantungmu, maka biarlah aku tetap menjadi luka yang paling tabah.
Mencintaimu dalam sunyi ini adalah ibadahku yang paling sunyi. Aku akan tetap merayakan keberadaanmu, meski dari kejauhan yang tak tersentuh. Aku akan tetap menyebut namamu dalam setiap hening, meski rungu yang kutuju telah lama beralih pada frekuensi yang berbeda. Sebab bagiku, meski aku telah menjadi ketiadaan bagimu, kau akan tetap menjadi segalanya bagiku—hingga sisa-sisa napas ini menemukan titik akhirnya.
Aku adalah sajak yang tak pernah usai kau baca, terselip di antara tumpukan memori yang tak lagi ingin kau buka.
Editor :Esti Maulenni