Katakan Bahwa Aku Rindu
Sore selalu punya cara yang paling jahat untuk mengingatkan tentang kehilangan. Ia datang dengan warna jingga yang memar, seolah langit sedang memamerkan luka yang sama dengan apa yang kurasakan di dalam dada. Di jam-jam seperti ini, ketika matahari mulai merendah dan bayang-bayang memanjang, aku merasa seperti sebuah bangunan tua yang ditinggalkan penghuninya; sunyi, berdebu, dan perlahan runtuh dimakan sepi.
Hawa dingin mulai merayap, menusuk pori-pori kulit yang dulu sering kau hangatkan hanya dengan sebuah tatapan. Kini, aku hanyalah seorang penziarah di trotoar kenangan, menatap bangku taman yang kosong, tempat di mana tawa kita pernah menggema sebelum akhirnya diredam oleh waktu yang tak punya hati. Setiap hembusan angin sore terasa seperti bisikan pamitmu yang berulang-ulang, menghantam rungu hingga aku lupa bagaimana caranya merasa utuh tanpa kehadiranmu.
Aku melihat burung-burung kembali ke sarang, mereka tahu ke mana harus pulang. Namun bagiku, pulang adalah sebuah kemustahilan sejak kau memutuskan untuk menutup pintu dan membawa kuncinya pergi. Aku tertinggal di persimpangan jalan yang basah oleh sisa gerimis, menunggu sesuatu yang aku tahu takkan pernah datang kembali. Sore ini adalah sebuah perjamuan duka yang paling puitis; di mana aku adalah satu-satunya tamu yang dipaksa menelan pahitnya kenyataan, sementara cahaya perlahan luruh menjadi gelap yang membekukan.
Pada akhirnya, ashar yang sekarat ini hanyalah sebuah pengingat, bahwa beberapa cerita memang harus berakhir sebagai luka yang mengering di ujung hari. Aku tetap di sini, memandangi langit yang mulai menghitam, sembari menyadari bahwa mencintaimu di waktu sore adalah cara tercepat untuk merasai betapa luasnya kehampaan yang kau tinggalkan.
Dan katakan pada semesta bahwa aku rindu, rindu kepada luka yang dibalut oleh senyuman itu.
Editor :Esti Maulenni